Ancaman terhadap pembangunan mass rapid transit (MRT) tidak kecil. Oleh sebab itu, Nippon Koei sebagai pemenang

tender desain dasar harus memperhitungkan risiko ini secara cermat.

JAKARTA , Pembangunan Mass Rapid Transit (MRT) Jakarta dibayangi tiga ancaman, yakni bencana alam, human

error, dan sabotase. Ancaman ini kian serius karena Indonesia belum memiliki pengalaman dalam sistem transportasi

bawah tanah.

Tiga ancaman itu dikemukakan Direktur Utama MRT Tribudi Rahardjo dalam seminar â€oeTunnel and Underground

Construction― di Wisma Nusantara, Jakarta, Rabu (30/9).

Selain Tribudi, Direktur Eksekutif International Tunneling Association (ITA) Olivier Vion dan Sekretaris Jenderal ITA

Claude Berenguir memberi pemaparan tentang pembangunan MRT.

Menurut Tribudi, setidaknya ada tiga faktor utama yang bisa menjadi penyebab bencana di MRT.

Pertama, faktor bencana alam seperti gempa dan banjir. Seperti gempa yang beberapa waktu lalu terjadi. Gempa ini

tidak mustahil terulang. Kedua, peralatan dan orang. Ketiga, kemungkinan sabotase.

Untuk mengantisipasi kemungkinan bencana tersebut, MRT sudah bekerja sama dengan ahli guna membuat berbagai

simulasi bencana yang mungkin menimpa MRT.

â€oeHingga saat ini kami baru bekerja sama dengan para ahli bidang bencana alam. Ke depannya kami juga akan bekerja

sama dengan ahli di bidang keselamatan transportasi, terutama transportasi bawah tanah serta keamanannya,― ungkap

Tribudi.

Para ahli tersebut, sambungnya, akan memberikan second opinion terhadap desain dasar (basic design) yang dibuat

oleh pihak Nippon Koei sebagai pemenang tender.

Para ahli akan memberikan rekomendasi terhadap basic design yang dibuat sehingga konstruksinya nanti dapat

menahan bencana yang mungkin terjadi.

Antisipasi terhadap kemungkinan bencana yang memengaruhi sistem tunnel MRT sangat penting. Pasalnya, dari 14,5

kilometer jalur MRT yang direncanakan, sekitar 4,5 km berada di bawah tanah.

â€oeBila dilihat dari total jalur MRT, yang berupa sistem bawah tanah hanya sekitar 40 persen. Namun, bila dilihat dari

pengerjaannya, sekitar 60 persen pembangunan MRT dilakukan untuk sistem ini,― jelasnya.

Tidak Kecil

Senada dengan Tribudi, Claude Berenguir melihat risiko pembangunan MRT terkena bencana tidak kecil.

Misalnya, bencana gempa dan banjir yang kerap melanda Jakarta. Apalagi Indonesia sama sekali tidak memiliki

pengalaman dengan sistem transportasi bawah tanah (tunnel).

Dia mengambil contoh di beberapa negara yang sistem terowongannya mengalami kerusakan akibat bencana seperti

Jepang dan China. Bencana tersebut pada umumnya adalah kerubuhan saluran tunnel, baik karena konstruksi yang

kurang kuat maupun karena gempa dan banjir.

â€oeDari sini terlihat, faktor risiko apa saja yang harus diperhatikan oleh pihak operator terowongan nantinya,― jelasnya.

Sementara itu, Olivier Vion mengungkapkan faktor bencana lain yang membayangi MRT Jakarta adalah dampak negatif

bagi lingkungan sekitarnya dan kerusakan lain akibat konstruksi yang tidak bisa lagi diperbarui sehingga memberikan

efek geologis dan pengaruh buruk bagi sumber air tanah.

â€oeBahkan, pembangunan tunnel juga dapat berakibat pada kerusakan arkeologi atau cagar budaya yang mungkin

tersimpan di kedalaman tanah,― jelasnya.

Total pinjaman untuk pembangunan moda transportasi rel bawah tanah itu adalah sebesar 144 miliar yen atau sekitar

10,2 triliun rupiah yang terbagi dalam dua tahap.

Tahap pertama dikucurkan sebesar 1,869 miliar yen. Tahap kedua untuk pekerjaan sipil dan peralatan sebesar 44,118

miliar yen, jasa konsultasi sebesar 1,8 juta yen dan dana cadangan sebesar 2,206 juta yen.

Rencananya, setelah beroperasi, ada 17 rangkaian gerbong yang mampu menampung 250 orang per gerbong.

Transportasi ini akan melayani permintaan penumpang hingga 220 ribu orang per hari. Pembangunan MRT ini akan

mampu mereduksi tingkat kemacetan di Jakarta hingga 10 persen ketika beroperasi.

MRT akan dibangun hingga 2016 yang membentang dari Lebak Bulus, Jakarta Selatan, hingga Dukuh Atas, Jakarta

Pusat, sepanjang 14,5 kilometer.

Sepanjang 4,5 km di antaranya (empat stasiun) dibangun di bawah tanah. Sedangkan 10,5 km dibangun melayang di

atas jalan (8 stasiun). Proyek yang akan selesai pada tahun 2016 itu adalah tahap pertama dari tiga tahap

pembangunan MRT di Jakarta.

sumber : http://dhi.koran-jakarta.com/ver02/file-pdf.php?id=22082&&idkat=28