Dengan struktur kepemimpinan yang baru, PT MRT Jakarta diharapkan dapat segera merealisasikan program-programnya untuk mempercepat pembangunan mass rapid transit (MRT)/kereta bawah tanah di DKI Jakarta. Salah satunya, mempercepat penyelesaian disain dasar pembangunan MRT. Sehingga, pembangunan fisik dapat dimulai pada tahun 2011 mendatang.

Direktur Fungsi Korporasi PT MRT, Eddi Santosa, menjelaskan, disain dasar pembangunan MRT di DKI Jakarta diprediksi akan selesai dalam 14 bulan atau pada bulan April 2010 mendatang. Dan selama tengat waktu itu, PT MRT juga akan mempersiapkan pelaksanaan tender hingga penentuan pemenangnya. Sehingga ketika disain dasar selesai, pembangunan fisik bisa langsung dimulai. 

Kendati demikian, lanjut Eddi, biar semunya berjalan matang sesuai jadwal, pekerjaan konstruksi baru akan dimulai diawal 2011. Sebab, pemenang tender juga harus mempelajari disain serta persiapan lainnya. “Sebenarnya ketika pemenang itu sudah ada, pekerjaan fisik sudah bisa dilaksanakan. Tapi untuk amannya, pekerjaan kita mulai awal 2011. Jadi antara April 2010 hingga awal 2011, kita bisa gunakan untuk persiapan,” ungkapnya. 

Apabila semua proses sudah berjalan dengan baik, diharapkan pekerjaan konstruksi fisik bisa selesai dalam jangka waktu lima tahun. Dengan lain kata, pada tahun 2016 MRT yang menghubungkan Lebakbulus-Kota sudah siap dioperasikan. Dalam pembangunannya, sambung Eddi, pekerjaan fisik MRT akan dibagi menjadi dua tahap yaitu, tahap pertama, rute yang akan dibangun Lebakbulus-Dukuhatas sepanjang 14,5 kilometer. Dan Tahap kedua, Dukuhatas-Kota. Namun pembangunan tahap kedua ini masih dilakukan visibility study oleh Japan International Cooperation Agency (JICA).

Selain itu, Eddi Santosa menjelaskan, biaya yang akan digunakan untuk membangun MRT ini berasal dari dana pinjaman JICA. Total pinjaman dari JICA terhadap proyek MRT ini sebesar 118 miliar yen atau sekitar 1,1 juta dolar AS. Dana pinjaman tersebut akan dibagi menjadi empat paket loan agreement (LA). Dari empat paket LA tersebut, hanya LA 1 dan 2 yang sifatnya hibah. Sedangkan LA 3 dan 4 bersifat pinjaman dan sepenuhnya akan dibayarkan oleh Pemprov DKI kepada JICA melalui pemerintah pusat.

Dana pinjaman LA 1 sebesar 1,86 miliar yen setara dengan 17 juta dolar AS atau Rp 163 miliar. Dari pengucuran dana pinjaman tahap pertama, PT MRT Jakarta hanya menerima Rp 63 miliar untuk persiapan konsultan untuk pelaksanaan tender, sisanya Rp 100 miliar diserahkan kepada Departemen Perhubungan RI guna pembuatan disain MRT.

LA 2 dikucurkan sebesar 48,15 miliar yen atau setara 450 juta dolar AS. Kucuran LA 2 ini telah tertuang dalam naskah penerusan perjanjian hibah antara pemerintah pusat dengan Pemprov DKI akan ditandatangani pada awal Maret 2009. “Prinsipnya tinggal penuangan isi perjanjiannya antara pemprov dengan pemerintah pusat,” kata Eddi. 

Draf rancangan naskah penerusan perjanjian hibah sudah selesai dibuat oleh Departemen Keuangan (Depkeu) dan saat ini telah diserahkan kepada Pemprov DKI. “Feedback dari Pemprov DKI akan dikirimkan besok, Jumat (20/2) ke Menteri Keuangan,” terangnya. Sedangkan, sisa kucuran pinjaman sebesar 67,99 miliar yen akan dibagi dalam LA 3 dan LA 4. “Besaran kedua LA ini belum bisa dipastikan berapa jumlahnya, masih kita diskemakan,” jelas Eddi. 

Eddi menjelaskan, pinjaman dari pemerintah Jepang ini merupakan special term economy partnership berstatus tight loan, yaitu 30 persen harus menggunakan suku cadang jepang, 70 boleh siapa saja, termasuk Indonesia. Bunga pinjaman yang dibebankan disepakati sebesar 0,25 persen dengan jangka waktu pengembalian selama 40 tahun.  

Direksi dan Komisaris PT MRT Terbentuk 

Setelah melalui uji kelayakan dan kepatutan oleh Badan Penanaman Modal dan Promosi, rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) PT MRT Jakarta menetapkan tiga orang dalam jajaran direksi dan tiga orang dalam jajaran dewan komisaris. Ketiga direksi PT MRT yang ditetapkan yaitu Tribudi Rahardjo sebagai Direktur Utama, Eddi Santosa sebagai Direktur Fungsi Korporasi dan Rachmadi sebagai Direktur Teknik. Sedangkan tiga dewan komisaris, yakni Achmad Harjadi sebagai Komisaris Utama, Nugroho Indrio, dan Irsan Gunawan sebagai Komisaris.

Selain pergantian manajemen, RUPSLB juga menyusun delapan program kerja direksi untuk tahun 2009. Kedelapan program tersebut, yaitu membangun sistem koorporasi pemerintahan yang baik dan manajemen resiko, pengembangan organisasi MRT, melakukan dukungan untuk procurement konsultan yang diadakan DKI untuk pekerjaan management consultancy menggunakan dana hibah dari Loan Agreement (LA) I dan membangun komunikasi publik. Melaksanakan pekerjaan counter part bekerja sama dengan Ditjen Perkeretaapian dalam pelaksanaan pekerjaan basic design, memberikan masukan bagi penyusunan rencana tata ruang dan wilayah terkait dengan konsep transit oriented development, mempersiapkan procurement untuk pengadaan konsultan untuk pekerjaan tender assistance dan mengamankan lahan untuk proyek berkoordinasi dengan dinas terkait.

Terhadap perombakan manajemen PT MRT ini, Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo, mengatakan, keenam orang tersebut telah melalui sistem pemilihan ketat dan selektif. Dan Mereka mempunyai tanggung jawab besar untuk mewujudkan impian warga Jakarta yaitu dapat menikmati kereta api modern di bawah tanah. “Tentu amanah yang dipikul direksi dan komisaris baru ini luar biasa beratnya. Karena menyangkut citra bangsa Indonesia untuk menghasilkan sesuatu yang baik tanpa cela,” kata Fauzi Bowo usai RUPSLB di Balaikota, Kamis (19/2).

Mengingat besarnya tanggung jawab yang diemban, gubernur tidak mengizinkan keenam orang yang duduk dalam jajaran manajemen PT MRT tersebut menjabat di perusahaan lain. Dengan begitu, harapan proyek akan berjalan sesuai jadwal dapat tercapai dengan baik. Terkait perkembangan basic design atau disain dasar, menurut Fauzi, perkembangannya cukup menggembirakan. “Untuk basic design kita sudah mendapatkan respon dari JICA. Mudah-mudahan hari ini disampaikan kepada kami keputusan konsultan basic design-nya,” ujarnya.

Sedangkan Direktur Utama PT MRT, Tribudi Rahardjo, belum bisa memberikan komentar, dengan alasan belum mengetahui sampai sejauhmana perkembangan pekerjaan PT MRT semasa dipimpin Eddi Santosa. “Berikan saya waktu satu bulan. Kami akan mengevaluasi setiap kemajuan. Setelah itu saya akan sampaikan hasil evaluasinya kepada wartawan,” ujar Tribudi singkat.

Sumber: beritajakarta.com