Krisis diduga pemicu terbitnya SK Tender

JAKARTA: Pelaksanaan desain dasar yang direncanakan awal tahun terancam tertunda kembali, menyusul belum terbitnya surat keputusan pemenang lelang pembuat desain dasar proyek kereta bawah tanah.

Sebelumnya pelaksanaan desain dasar kereta bawah tanah (mass rapid transit/MRT) yang memakan waktu sekitar 14 bulan itu, direncanakan dimulai sejak akhir tahun lalu.

Beberapa spekulasi penyebab keterlambatan mulai muncul. Spekulasi pertama muncul yakni krisis ekonomi yang melanda Jepang, membuat negara penyandang dana itu menunda proses percepatan sampai kondisi ekonominya membaik.

Akibat krisis, beberapa industri di Jepang memang sempat mengalami kolaps. Akibatnya, muncul pesimisme dari pengusaha Jepang untuk berinvestasi di Indonesia karena krisis global itu.

Kekhawatiran itu, diakui oleh Ketua Asosiasi Penguasaha Jepang-Indonesia Hajime Kinoshita dalam pertemuan antara pengusaha Jepang dan Indonesia di Kansai (kawasan Jepang barat) kemarin.

Menurut Kinoshita, hal yang paling penting saat ini yakni menciptakan sikap optimistis dari sebelumnya pesimistis, terlebih bila melihat kondisi Jepang yang terkena dampak krisis ekonomi yang begitu besar.

Dalam pertemuan itu, Ketua Umum Kadin Rachmat Gobel meminta pengusaha Jepang memandang optimistis iklim perekonomian Indonesia. “Penting bagi Indonesia dan Jepang untuk memperluas usaha di tengah situasi krisis seperti sekarang. Apalagi kondisi ekonomi Indonesia justru berada dalam posisi yang positif,” kata Gobel.

Bukan krisis

Namun, spekulasi keterlambatan akibat krisis global itu, dibantah Deputi Menko Perekonomian Bidang Infrastruktur Bambang Susantono yang menyebutkan keterlambatan bukan diakibatkan oleh adanya dampak krisis global di Jepang.

Pasalnya, kata dia, sejak semulai JBIC sudah berkomitmen untuk membiayai beberapa infrastruktur di Indonesia termasuk proyek MRT di Jakarta. “Itu bukan jadi alasannya, karena mereka sudah komitmen sejak awal baik secara tekniknya. Jadi saya rasa bukan itu masalah utamanya,” ujar dia ketika dihubungi kemarin.

Bantahan serupa juga disampaikan juru bicara JICA Iman Senoadji yang mengatakan penyebab keterlambatan lebih disebabkan belum tercapainya kesepakatan antara pihak Departemen Perhubungan dan Japan International Cooperation Agency (JICA) terkait keputusan pemenang lelang yang telah ditetapkan Dephub menunjuk Katahira sebagai pemenang lelang.

Menurut dia, saat ini masalah yang mengganjal yakni proses internal kesepakatan antara JICA, panitia lelang dan Dirjen Perkeretaapian terkait keputusan pemenang lelang.

Dia menjelaskan ada beberapa hal yang harus disepakati diantara ketiga pihak itu agar mencapai satu kesepahaman.

Iman menjelaskan, ada beberapa klarifikasi dari JICA yang harus diselesaikan Dirjen Perkeretaapian, sebelum pemenang lelang diumumkan secara sah.

Namun, dia menegaskan semua proses berjalan sesuai dengan tahapan dan tidak ada rencana untuk menunda atau pembiayaan pelaksanaan MRT.

Dalam perkembangan lain, MRT juga menarik minat negara Korea untuk membiayainya.

Business Development Hyundai Corporation Triono Hermawan mengatakan perusahaannya tertarik untuk membiayai proyek MRT tahap kedua, dengan pembiayaan bersumber dari Korean EXIM Bank atau EDCF’s soft loan. (mia.chitra@bisnis.co.id)

Oleh Mia Chitra Dinisari
Sumber: Bisnis Indonesia