JAKARTA: Tahun ini, menjadi titik awal dimulainya pembangunan kereta bawah tanah mass rapid transit (MRT) menyusul bakal ditandatanganinya kesepakatan perjanjian kedua per Februari 2009. Direktur Utama PT MRT Eddi Santosa, dalam wawancaranya dengan Bisnis, menjelaskan apa saja rencana itu paskapenunjukan PT Katahira sebagai perusahaan konsultan basic desain MRT.

Program apa saja yang segera dilakukan?

PT Mass Rapid Transit (MRT) Jakarta akan menyiapkan tender rekrutmen konsultan pelaksana desain dasar proyek MRT, untuk mendukung kegiatan pembuatan basic desain oleh perusahaan konsultan yang ditunjuk Departemen Perhubungan. Setelah itu, barulah akan dibuka tender untuk perusahaan kontraktor, dan supervisi kegiatan.

Apakah tendernya akan dibuka secara terbuka?

Tender dengan short listed, akan segera dibuka setelah rencana kerja anggaran perusahaan (RKAP) PT MRT disetujui dalam rapat umum pemegang saham yang digelar Januari 2009. Daftarnya berasal dari beberapa nama konsultan yang dipakai untuk membuat basic desain proyek MRT yang sempat dirancang pada 1996.

Beberapa nama yang muncul dalam proyek lebih dari 10 tahun itu a.l Japan Railway Technical Service, Deutsche Eisenbahn-Consulting Gmbh, Ove Arup&Partners International, Pacific Consultants International Ltd, PT Encona Engineering Inc, PT Wiratman & Associate, dan PT Triparta Engineering. Tentunya kami akan pilih konsultan dari Jepang, sesuai dengan standar prosedur yang harus dipenuhi dalam proyek ini.

Untuk konstruksi, berapa kontraktor yang akan direkrut nantinya?

Saya akan pilih lebih dari lima kontraktor yang akan membangun proyek ini, agar lebih cepat pengerjaannya sehingga bisa menekan biaya dan lebih banyak menggandeng tenaga kerja.

Pihak Jepang sebenarnya mengajukan usulan hanya dua kontraktor besar yang terlibat, tetapi dari hasil negosiasi diputuskan jumlahnya lebih banyak dengan alasan tadi. Namun, kontraktor itu harus terdapat unsur Jepangnya, meski nantinya berupa konsorsium dari perusahaan beberapa negara termasuk Indonesia juga.

Bagaimana dengan material fisik sendiri?

Masih sesuai dengan kesepakatan, dengan sistem 40% dibelanjakan untuk produk Jepang, sedangkan 30%nya produk dalam negeri, dan 30% sisanya ke negara mana saja. Namun, kami juga berhasil mencapai kesepakatan dengan Japan International Cooperation Agency [JICA] terkait dengan penyediaan kereta akan dilakukan dengan sistem 70:30. yakni, 70% kereta akan didatangkan dari Jepang, sedangkan 30% sisanya dirakit di sini. Langkah ini dilakukan untuk menekan biaya pengadaan kereta impor. Sebelumnya, mereka minta 100% kereta didatangkan dari Jepang.

Proses pembebasan lahan?

Pembebasan lahan tidak terlalu banyak, karenanya saya pikir mungkin tahun ini bisa selesai semua, atau sisanya bisa diselesaikan berbarengan dengan proses konstruksi nantinya. Jadi tahun ini akan dipercepat prosesnya itu.

Kapan pinjaman tahap kedua turun?

JBIC sepakat mengucurkan dana pinjaman sebesar US$450 juta atau setara dengan 142 Miliar Yen dalam penandatanganan kesepakatan kedua pada awal tahun ini. Nilai itu masih termasuk nilai hibah yang diterima DKI dari pemerintah pusat atau 48% dari total pinjaman ke JBIC, sedangkan pengucuran dana berupa pinjaman baru akan diterima pada loan agreement tahap ketiga.

Saya menyusun strategi ini, agar dengan dana hibah ini, PT MRT sudah punya equity yang bisa dijadikan modal awal dalam melaksanakan kegiatan pembangunan.

Bagaimana konsep pembangunannya sendiri?

Terkait dengan konsep pembangunan MRT nantinya, akan dibangun dengan konsep restorasi kawasan kota agar tampak lebih teratur sehingga bisa mendatangkan manfaat ekonomis. Ini merupakan keinginan dari Gubernur dan saya akan menerapkannya di lapangan. Nantinya akan banyak kerja sama dengan swasta untuk pengembangan ini.

Adapun, untuk konsep stasiun dan relnya akan diterapkan dengan sistem bawah tanah dan elevated, sehingga tidak banyak mengganggu aktifitas lalu lintas dalam pengerjaannya, ataupun dalam operasionalnya nanti.

Menurut rencana, sebelum jalur Dukuh Atas-Kota dibangun, Pemprov DKI juga akan membangun kawasan jaringan terpadu bawah tanah sepanjang Dukuh Atas-Bunderan HI. Ini konsep yang diinginkan Gubernur. Karena diharapkan nantinya selain setiap stasiun terintegrasi dengan kegiatan bisnis di sekitarnya, di sepanjang Dukuh Atas-Bunderan HI ini juga akan ada kegiatan bisnis yang bisa mendatangkan revenue bagi DKI.

Pewawancara: Mia Chitra Dinisari
Sumber: Bisnis Indonesia