Lintasan MRT diperluas 2016
filed in bisnis.com on Nov.26, 2008
JAKARTA: Pemprov DKI akan melakukan studi awal kelayakan konstruksi lintasan mass rapid transit (MRT) Kebon Jeruk-Pulogebang bersamaan dengan rencana perluasan lintasan ke Dukuh Atas-Kota pada 2016.
Gubernur DKI Fauzi Bowo menyatakan studi itu sekaligus menjadi awal rencana pengalihan jalur blue line monorail menjadi sepenuhnya lintasan MRT. Studi tersebut dilakukan setelah pekerjaan lintasan Dukuh Atas-Lebak Bulus selesai.
“Jadi setelah Lebak Bulus – Dukuh Atas selesai, segera dilanjutkan pembangunan lintas Dukuh Atas-Kota. Nah, di dalam paket Dukuh Atas – Kota itu kami akan masukkan kajian awal lintas Kebon Jeruk-Pulogebang,” ujarnya di Jakarta, kemarin.
Gubernur mengatakan pihak kreditor sudah menyetujui rencana tersebut. Namun, belum ada rincian persis mengenai nilai pinjaman studi awal berikut rencana perluasan lintasan MRT ke jalur Dukuh Atas-Kota.
Namun, sesuai dengan jadwal, perluasan konstruksi MRT lintasan Dukuh Atas – Kota dan studi kelayakan lintasan Kebun Jeruk-Pulogebang akan dilakukan setelah konstruksi lintasan Dukuh Atas-Lebak Bulus selesai sepenuhnya pada 2015.
Rencananya, lintasan Kebon Jeruk-Pulogebang itu akan bertemu dengan lintasan Lebak Bulus-Kota di kawasan Wisma Dharmala, Karet Jl. KH Mas Mansyur. Lintasan dari Kebon Jeruk ke Pulogebang akan melalui Kampung Melayu dan Kali Malang.
“Sedangkan lintasan ke arah barat sendiri belum ada kepastian, tetapi kemungkinan sampai di daerah Kebun Jeruk akan melewati Tomang, atau yang sebelumnya merupakan rencana blue line dari proyek monorail yang kami perbarui,” katanya.
Pembangunan MRT lintasan pertama, yakni Dukuh Atas- Lebak Bulus, saat ini masih dalam tahap desain teknik yang dikoordinasi oleh Departemen Perhubungan. Menurut jadwal, desain ini rampung pada Maret 2010.
Setelah desain teknik itu rampung pekerjaan dilanjutkan dengan konstruksi fisik lintasan yang diperkirakan memakan waktu empat tahun, dari 2011-2015.
Jika operasional MRT berjalan lancar, maka dalam periode 2016-2025 diproyeksikan selama periode 2026-2055 moda transportasi baru Ibu Kota itu sudah dapat menghasilkan total laba bersih sebesar Rp13 triliun.
Namun pada periode yang sama, setiap tahun APBD DKI harus tergerus sebesar Rp87 miliar guna membayar cicilan pokok berikut bunga dari pinjaman yang diberikan oleh Japan Bank for International Cooperation/ JBIC (kini Japan International Coorperation Agency/ JICA).
Menurut rencana, JICA akan mencairkan pinjaman US$450 juta per Maret 2009, melanjutkan pinjaman sebelumnya yang untuk desain US$17 juta.
Oleh Nurudin Abdullah
Source: Bisnis Indonesia

Leave a Reply
You must be logged in to post a comment.