Jumat, 17 Oktober 2008 | 01:54 WIB

Jakarta, Kompas – Masa depan pembangunan monorel di Jakarta kian suram seiring dengan munculnya krisis keuangan global. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengaku kesulitan mencari penyandang dana baru untuk membiayai pembangunan infrastruktur itu.

Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo, Kamis (16/10), mengatakan, para calon investor yang sempat menyatakan ingin mengambil alih proyek monorel kini berhitung ulang. Krisis keuangan global membuat pendanaan proyek-proyek berskala besar dapat terganggu di tengah jalan.

Pemprov DKI Jakarta tidak mau gegabah menerima investor baru agar kegagalan PT Jakarta Monorail dalam membangun monorel tidak terulang. Setiap investor harus memperbarui perhitungan keuangannya terkait dengan krisis ini agar tidak ada kemandekan pembangunan.

”Mungkin dulu ada investor yang tertarik membangun monorel, tetapi sekarang belum tentu,” kata Fauzi.

Monorel yang dibagi menjadi dua jalur, jalur hijau dan jalur biru, diperkirakan dapat mengangkut 120.000 orang per hari. Monorel jalur hijau sepanjang 14,2 kilometer (Semanggi-Kuningan) membutuhkan investasi 350 juta dollar AS. Jalur biru sepanjang 12,2 kilometer (Kampung Melayu-Casablanca-Tanah Abang-Roxy) membutuhkan dana 250 juta dollar AS.

PT Jakarta Monorail gagal membangun proyek monorel di Jakarta karena mundurnya Bank Pembangunan Islam, Dubai. Kegagalan proyek itu kini menyisakan tiang-tiang yang teronggok di beberapa kawasan.

Kini, Pemprov DKI Jakarta tengah melobi Bank Dunia agar mau membiayai studi kelayakan pembangunan monorel. Bank Dunia sebelumnya menyarankan agar pembangunan monorel tidak diserahkan ke swasta.

Ketua Pusat Studi Transportasi Universitas Indonesia (UI) Sutanto Soehodo mengatakan, monorel merupakan investasi jangka panjang. Proyek monorel diarahkan untuk pelayanan publik sehingga memang sulit jika diserahkan ke swasta yang berorientasi keuntungan. (ECA)