Jakarta – Gubernur Jakarta Fauzi Bowo mengharapkan dukungan DPRD Jakarta menyangkut penyertaan modal PT Mass Rapid Transit (MRT) Jakarta. Ini karena kehadiran MRT sangat dibutuhkan bukan hanya lima tahun, 10 tahun, tapi lebih dari 50 tahun depan.
Hal itu dikatakan Fauzi Bowo, Kamis (3/4) siang, di Balai Kota. Dia menyatakan, MRT sangat diperlukan karena itu PT MRT diharapkan segera dibentuk. Dukungan DPRD soal dana sangat diperlukan agar orang-orang duduk dalam perusahaan secepatnya memulai pekerjaan.
Rencana penyertaan modal pada PT MRT Rp 200 miliar. Pada saat pembentukan PT MRT sudah harus setor Rp 50 miliar. Penyertaan modal ini untuk keperluan operasional tahun 2008 dan 2009. Penyerataan modal berikutnya disesuaikan dengan kebutuhan.
Biaya MRT sebesar Rp 10,264 triliun, pinjaman Japan Bank for International Coorporation (JBIC) Rp 8,350 triliun, APBD Rp 651 miliar dan APBN Rp 1,254 triliun.
Dana pinjaman dari JBIC, sebanyak 58 persen dari pokok pinjaman dikembalikan Pemda DKI Jakarta dengan bunga 0,5 persen, grace period 10 tahun, cicilan 30 tahun. Sedangkan, 42 persen dari pokok pinjaman merupakan hibah pemerintah pusat.
MRT merupakan sarana transportasi kota yang menjawab kebutuhan kota 50 tahun sampai 100 tahun ke depan. Meskipun baru satu segmen, yakni Lebak Bulus-Dukuh Atas, MRT akan terus tumbuh karena merupakan kebutuhan kota dan urat nadi perekonomian.
Segmen Lebak Bulus-Dukuh Atas sepanjang 14,3 kilometer (km) itu akan dilengkapi dengan 12 stasiun, Lebak Bulus, Fatmawati, Cipete Raya, Haji Nawi, Blok A, Blok M, Sisingamangaraja, Senayan, Istora, Bendungan Hilir, Setia Budi dan Dukuh Atas. Dari jumlah stasiun yang ada, delapan stasiun berada di atas tanah dan empat stasiun berada di bawah tanah.
Pada tahap pertama beroperasi tahun 2015 kapasitas angkutan MRT mencapai 153.000 penumpang per hari dan diharapkan akan mencapai 339.000 penumpang per hari pada tahun 2020.
Kepemilikan PT MRT Jakarta, 99 persen adalah saham Pemda Jakarta dan 1 persen saham akan dimiliki BUMD Jakarta yang memiliki kemampuan keuangan yang baik. (andreas piatu)