Pembangunan MRT Lebak Bulus-Dukuh Atas Mulai 2009
filed in Kompas.com, MRT in the News on Mar.10, 2008
Apa kabar proyek mass rapid transit atau MRT Lebak Bulus-Dukuh Atas? Banyak warga yang sudah bosan dengan kondisi kemacetan lalu lintas di Jakarta menanyakan perkembangan terakhir proyek ini. Mereka tentu tak ingin proyek MRT yang sudah dijanjikan pemerintah itu hanya sekadar rencana, apalagi wacana.
Jika MRT tidak dibangun sekarang juga, sungguh tak bisa dibayangkan bagaimana kondisi lalu lintas di Ibu Kota empat-lima tahun mendatang. Kendaraan pribadi tetap membanjiri jalan di Jakarta dan sekitarnya. Jalan tol bukan lagi jalan bebas hambatan, lalu akan makin banyak orang yang stres dengan kemacetan lalu lintas. Dan, Jakarta akan dicap sebagai kota dengan layanan transportasi paling buruk di Asia Tenggara. Bangkok dan Kuala Lumpur yang dulu sama dengan Jakarta kini sudah memiliki MRT. Padahal, sejak 17 tahun lalu, Jakarta sudah punya rencana membangun MRT dengan rute Blok M-Kota. Entah kenapa, pemerintah tak pernah mampu merealisasikannya.
Apakah rencana pembangunan MRT kali ini juga sekadar wacana? Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo tentu tak ingin sekadar mengucap janji manis. Dia memastikan pembangunan konstruksi dimulai pada tahun 2009.
”Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sudah membentuk perusahaan operator mass rapid transit atau MRT yang dinamakan MRT Corporation. Saat ini Pemprov masih mencari orang yang berkompeten untuk menduduki jabatan direktur utama perusahaan gabungan antara Pemprov DKI dan Departemen Perhubungan,” kata Fauzi Bowo dalam percakapan dengan Kompas di Balaikota DKI, Kamis (6/3) pagi.
Pembiayaan
Bagaimana dengan soal pembiayaan? Apakah nasibnya sama dengan proyek monorel yang kini menyisakan tiang-tiang dengan beton berkarat dan mengganggu pemandangan, bahkan memacetkan Jakarta?
Soal biaya, Fauzi Bowo menegaskan kembali pembiayaan pembangunan MRT tidak ada masalah karena pinjaman Japan Bank for International Cooperation (JBIC) dipastikan turun karena sudah ada hitam di atas putih.
”Saat ini kami masih mencari orang yang layak menduduki jabatan direktur utama. Orang inilah yang akan menangani proyek MRT Lebak Bulus-Dukuh Atas,” kata Fauzi.
MRT Corporation, penyelenggara MRT itu, akan menerapkan mekanisme one window sebagai organisasi pelaksana dan memastikan adanya integrasi yang konsisten mulai dari tahap perencanaan, tahap konstruksi, sampai pada tahap operasi dan pemeliharaan. MRT Corporation ini akan merekrut 20 sampai 40 pimpinan agar perusahaan yang berstatus badan usaha milik daerah (BUMD) DKI Jakarta ini dapat beroperasi mulai April 2008.
Proyek MRT Lebak Bulus-Dukuh Atas sepanjang 14,3 kilometer ini dibiayai melalui pinjaman JBIC sebesar 96.082.000.000 yen Jepang, dengan catatan nilai kurs 1 yen pada posisi Rp 80. Pinjaman tahap pertama yang sudah ditandatangani sebesar 1.869.000.000 yen digunakan untuk kegiatan engineering service MRT, sedangkan pinjaman tahap kedua akan ditandatangani pada tahun 2009 dengan nilai 94.213.000.000 yen untuk pembangunan fisik atau konstruksi MRT.
Komposisi pembagian beban pembiayaan yang disepakati adalah 42 persen biaya proyek menjadi kewajiban pemerintah pusat dan 58 persen biaya proyek menjadi kewajiban Pemprov DKI Jakarta. Biaya proyek ini akan diteruskan melalui skema penerusan pinjaman atau sub- loan agreement (on lending) dari pemerintah pusat melalui pinjaman tahap kedua.
Selain bertanggung jawab atas 58 persen biaya proyek, Pemprov DKI Jakarta juga memiliki kewajiban terhadap pembebasan tanah di sepanjang jalur MRT yang membutuhkan dana Rp 160 miliar, melakukan penetapan skema subsidi, serta working capital MRT Corp pada tahap rekayasa desain, konstruksi, dan tahun pertama operasi hingga tahun 2014 dengan biaya sekitar Rp 365 miliar.
12 stasiun
Berapa stasiun pemberhentian yang akan dibangun pada ruas Lebak Bulus hingga Dukuh Atas? Proyek MRT sepanjang 14,3 kilometer ini direncanakan memiliki 12 stasiun pemberhentian, terdiri atas delapan stasiun layang dan empat stasiun bawah tanah. Delapan stasiun layang berlokasi di Lebak Bulus, Fatmawati, Cipete Raya, Haji Nawi, Blok A, Blok M, Sisingamangaraja, dan Senayan. Stasiun bawah tanah berlokasi di Istora, Bendungan Hilir, Setiabudi, dan Dukuh Atas. Satu depo akan dibangun di Terminal Lebak Bulus.
Kecepatan rata-rata MRT direncanakan 32 kilometer per jam, dengan waktu tempuh Lebak Bulus hingga ke Dukuh Atas 26 menit. MRT ini memiliki kapasitas angkut 23.000 penumpang per jam untuk satu arah, dan sekitar 400.000 penumpang per hari. Kapasitas angkut penumpang pada tahun 2020 diestimasi mencapai 315.000 penumpang per hari.
Dalam proyek MRT ini, Stasiun Dukuh Atas diproyeksikan menjadi stasiun terbesar yang terintegrasi dengan stasiun KA Jabodetabek yang dapat berfungsi sebagai MRT feeder, stasiun waterway, stasiun monorel yang sudah direncanakan, stasiun busway, serta pemberhentian taksi dan bus umum.
Sementara Stasiun Blok M akan terintegrasi dengan Terminal Blok M, di mana bus berbagai jurusan berada di sini, dan terminal transjakarta. Stasiun Bendungan Hilir direncanakan terkoneksi dengan stasiun monorel di Jalan Setiabudi, sementara Stasiun Istora Senayan akan terintegrasi dengan stasiun monorel dan pusat jasa komersial di sekitarnya.
Stasiun Fatmawati akan memiliki kawasan tempat penitipan kendaraan yang disebut park and ride. Warga dapat memarkirkan mobil dan motornya di tempat penitipan ini. Stasiun ini akan terhubungkan dengan pusat komersial Cilandak Town Square (Citos). Sementara Stasiun Lebak Bulus akan menjadi kawasan depo MRT dan terhubung dengan terminal bus umum dan bus transjakarta.
Kita tunggu janji Bang Fauzi Bowo dan jajaran Pemprov DKI merealisasikan proyek MRT Lebak Bulus-Dukuh Atas ini. Jangan lupa, Bang, warga Jakarta sudah muak dengan kondisi kemacetan di kota ini.
Oleh R Adhi Kusumaputra
Sumber: cetak.kompas.com

Leave a Reply
You must be logged in to post a comment.