Berita & Update

Archive

  • William: MRT Harus Menjadi Bagian dari Gaya Hidup

    03 Mar , 2017

    Pembangunan konstruksi proyek MRT Jakarta (MRTJ) Fase 1 Lebak Bulus – Bundaran Hotel Indonesia mengalami kemajuan yang pesat. Hingga saat ini, perkembangannya mencapai 66% di mana konstruksi stasiun underground (bawah tanah) yang telah terselesaikan mencapai 83%, sementara stasiun elevated (layang) mencapai 53%. Namun demikian, hal besar lainnya menanti untuk dijawab oleh PT MRT Jakarta sebagai operator dari kereta massal cepat (Mass Rapid Train) ini: menyediakan solusi transportasi publik yang aman, nyaman, dan menjadi bagian dari gaya hidup penggunanya.

    Hal tersebut diungkapkan Direktur Utama PT MRT Jakarta, William Sabandar, yang Kamis kemarin (2/3) menjadi narasumber dalam taping acara talkshow besutan Metro TV, Economic Challenge. “MRT bukan hanya pembangunan transportasi, namun gaya hidup. Bagaimana meningkatkan kualitas hidup masyarakat, khususnya di Jakarta,” ujar pria berdarah Makassar ini dengan serius. “Akan ada perubahan kultur transportasi yang selama ini wajah transportasi publik tidak nyaman dan ruwet. Kami mencoba menawarkan transportasi umum yang aman dan nyaman.”

    Menanggapi terselesaikannya konstruksi bawah tanah MRT Jakarta pada  pekan lalu, William menyebutkan bahwa capaian tersebut merupakan hasil dari strategi dan langkah yang dilakukan pihaknya dalam memenuhi target operasional kereta pada Maret 2017. “Saat ini kami sampai pada tahap penyiapan track kereta dan pemasangan beton. Track yang ada sekarang untuk kerja (konstruksi), ada rel khusus untuk kereta,” jelas pria yang ditunjuk menjadi direktur utama pada tahun 2016 silam. “Setelah itu, instalasi kelistrikan dan telekomunikasi dimulai. Aksesoris stasiun pun akan dilengkapi,” ungkapnya.

    Kereta-kereta MRT Jakarta rencananya beroperasi setiap hari mulai pukul 05.00 pagi hingga 00.00 dini hari, dengan menggunakan tenaga listrik. Untuk memastikan ketersediaan daya, PT MRT Jakarta telah melakukan kerja sama dengan PLN untuk jaminan pasokan listrik bertenaga 65 mega watt guna menarik 16 set rangkaian kereta. “Ke depannya, akan ada pembangkit khusus. Kami mengembangkan substasiun listrik khusus di tiap stasiun yang berfungsi sebagai cadangan apabila suplai listrik PLN terganggu,” ungkapnya.

    Merujuk pada data dari Statistik Transportasi DKI Jakarta tahun 2015, jumlah kendaraan yang beredar di Jakarta mencapai 16,07 juta unit. Dengan panjang jalan raya hanya 6,95 juta meter maka kemacetan lalu lintas telah menjadi keseharian bagi 9 juta penduduk ibukota. Kondisi yang tidak kondusif ini turut dirasakan para komuter yang datang dari kota-kota penyangga, seperti Tangerang, Bekasi, Depok, dan Bogor. Kehadiran transportasi publik yang aman dan nyaman akan menjadi magnet bagi masyarakat yang selama ini menggunakan kendaraan pribadi.

    Namun, William menyadari kehadiran MRT tidak akan serta-merta memecahkan problem kemacetan di ibukota. “MRT hanya salah satu instrumen transportasi publik. Faktor yang paling penting adalah kemauan masyarakat untuk berubah,” jelasnya. “Nantinya akan ada interkoneksi dengan KRL, Transjakarta, LRT, dan kereta ke bandara agar masyarakat mau menggunakan transportasi publik,” tutupnya.

    Pembangunan MRT adalah sebuah terobosan baru dari pemerintah dalam menjalankan tanggung jawabnya untuk menyediakan pelayanan transportasi publik yang terbaik untuk masyarakat. Selayaknya sebuah terobosan baru, beragam tantangan dan hambatan adalah bagian yang tidak terelakkan. Namun, Jakarta telah lama belajar bahwa hal baik selalu dimulai dari perubahan, baik infrastruktur maupun perilaku.  [NAS/CP]